tricksocial

Goblin Korea (Dokkaebi): Makna Budaya, Jenis-jenis, dan Penggambarannya dalam Drama K-Pop

PH
Pradipta Hasan

Jelajahi dunia dokkaebi (goblin Korea) dalam budaya Korea: makna budaya, jenis-jenis seperti dokkaebi pohon beringin, simbolisme mawar hitam, perbandingan dengan kuntilanak, krasue, dan jiangshi, serta penggambaran dalam drama dan K-Pop.

Dalam khazanah mitologi Korea, dokkaebi atau yang dikenal sebagai goblin Korea menempati posisi unik sebagai makhluk supernatural yang tidak sepenuhnya jahat maupun baik. Berbeda dengan hantu menakutkan seperti kuntilanak dari Indonesia atau krasue dari Thailand, dokkaebi sering digambarkan sebagai makhluk trickster dengan karakteristik yang kompleks. Makhluk ini telah menjadi bagian integral dari budaya Korea selama berabad-abad, berevolusi dari kepercayaan rakyat tradisional menjadi ikon budaya populer melalui drama dan musik K-Pop.


Dokkaebi secara tradisional diyakini tercipta dari benda-benda sehari-hari yang telah digunakan manusia selama seratus tahun atau lebih. Ketika benda-benda seperti tongkat, topi, atau bahkan pakaian tua menyerap energi spiritual dari penggunaan manusia yang berkepanjangan, mereka dapat berubah menjadi dokkaebi. Konsep ini mencerminkan kepercayaan animisme Korea kuno yang melihat roh dalam segala benda. Berbeda dengan hantu ubume dari Jepang yang terikat pada tragedi kematian ibu dan anak, atau jiangshi dari Tiongkok yang merupakan mayat hidup, dokkaebi memiliki asal-usul yang lebih material dan duniawi.


Pohon beringin memegang peran khusus dalam mitologi dokkaebi. Dalam cerita rakyat Korea, pohon beringin tua sering dianggap sebagai tempat tinggal favorit dokkaebi. Pohon dengan usia ratusan tahun diyakini telah menyerap energi spiritual yang cukup untuk menjadi rumah bagi makhluk supernatural ini. Konsep ini memiliki paralel dengan kepercayaan Asia lainnya tentang pohon keramat, meskipun berbeda dengan legenda Menara Hantu di Thailand atau Aokigahara Forest di Jepang yang lebih terkait dengan tempat angker daripada makhluk trickster. Pohon beringin dalam konteks dokkaebi sering menjadi tempat pertemuan antara dunia manusia dan dunia supernatural.


Jenis-jenis dokkaebi sangat beragam dalam mitologi Korea. Dokkaebi pedang (geom dokkaebi) dikenal suka menantang manusia untuk bertarung, sementara dokkaebi batu (dol dokkaebi) lebih suka bermain teka-teki. Dokkaebi api (bul dokkaebi) dapat mengendalikan unsur api, dan dokkaebi air (mul dokkaebi) menghuni sungai dan danau. Masing-masing jenis memiliki karakteristik dan kemampuan unik yang membedakannya dari makhluk mitologi Asia lainnya seperti krasue (kepala terbang dari Thailand) atau kuntilanak (hantu perempuan dari Indonesia).


Simbolisme mawar hitam dalam konteks dokkaebi muncul terutama dalam adaptasi modern. Dalam drama "Goblin" (2016) yang dibintangi Gong Yoo, mawar hitam muncul sebagai simbol nasib tragis dan cinta abadi. Meskipun mawar hitam bukan elemen tradisional dalam cerita rakyat dokkaebi, penggabungannya dalam drama populer menunjukkan bagaimana simbol-simbol universal diadaptasi ke dalam narasi Korea modern. Hal ini berbeda dengan simbolisme tradisional dalam budaya Korea yang lebih sering menggunakan bunga seperti mugunghwa (bunga nasional Korea) atau plum blossom.


Penggambaran dokkaebi dalam drama Korea telah mengalami transformasi signifikan. Dari makhluk menakutkan dalam cerita rakyat tradisional, dokkaebi modern sering digambarkan sebagai karakter yang karismatik, tampan, dan kompleks secara emosional. Drama "Goblin" menjadi titik balik dengan menggambarkan dokkaebi sebagai makhluk abadi yang mencari pengantin manusia untuk mengakhiri keabadiannya. Adaptasi ini menarik paralel dengan tema universal dalam cerita hantu Asia, meskipun dengan sentuhan romantis yang khas Korea.


Dalam dunia K-Pop, pengaruh dokkaebi dan elemen supernatural Korea muncul dalam berbagai bentuk. Grup seperti BTS, EXO, dan ATEEZ telah memasukkan tema supernatural dan mitologis dalam konsep musik dan video mereka. Meskipun tidak selalu secara eksplisit menampilkan dokkaebi, elemen-elemen seperti transformasi, kekuatan supernatural, dan dualitas baik-buruk mencerminkan tema-tema yang terkait dengan makhluk trickster Korea ini. Hal ini menunjukkan bagaimana mitologi tradisional terus berevolusi dan menemukan ekspresi baru dalam budaya pop kontemporer.


Perbandingan dengan makhluk mitologi Asia lainnya mengungkapkan keunikan dokkaebi. Sementara kuntilanak dari Indonesia terikat pada kematian ibu hamil, dan krasue dari Thailand merupakan hantu perempuan yang kepala dan organ dalamnya terbang di malam hari, dokkaebi lebih bersifat gender-netral dan tidak terikat pada tragedi spesifik. Jiangshi dari Tiongkok, sebagai mayat hidup yang melompat dengan lengan terentang, juga sangat berbeda dengan dokkaebi yang lebih antropomorfik dan mampu berinteraksi kompleks dengan manusia.


Aspek komersial dan budaya populer dokkaebi telah meluas ke berbagai media. Dari drama televisi hingga webtoon, permainan video, dan bahkan konten hiburan digital, dokkaebi telah menjadi merek budaya yang signifikan. Fenomena ini mirip dengan bagaimana universitas seperti Chulalongkorn University di Thailand mempelajari dan melestarikan makhluk mitologi lokal mereka, meskipun dalam konteks akademis yang lebih formal.


Makna budaya dokkaebi dalam masyarakat Korea kontemporer mencerminkan perubahan nilai-nilai sosial. Dokkaebi tradisional sering berfungsi sebagai alat pengajaran moral, menghukum keserakahan dan menghargai kemurahan hati. Dalam adaptasi modern, mereka lebih sering menjadi metafora untuk pengasingan modern, pencarian identitas, dan kompleksitas hubungan manusia. Transformasi ini menunjukkan bagaimana cerita rakyat beradaptasi dengan kebutuhan budaya yang berubah.


Elemen supernatural dalam budaya Korea tidak terbatas pada dokkaebi saja. Tempat-tempat seperti situs dengan sejarah gelap sering dikaitkan dengan berbagai jenis hantu dan roh. Namun, dokkaebi tetap menonjol karena sifatnya yang ambigu – bukan sepenuhnya baik atau jahat, bukan sepenuhnya manusia atau roh, tetapi berada di antara keduanya. Ambivalensi ini membuatnya menjadi karakter yang menarik untuk eksplorasi naratif.


Dalam konteks globalisasi budaya Korea, dokkaebi telah menjadi salah satu ekspor budaya yang sukses. Melalui drama seperti "Goblin" yang ditonton secara internasional, dunia diperkenalkan pada makhluk mitologi Korea yang unik. Proses ini mirip dengan bagaimana platform hiburan global memperkenalkan berbagai elemen budaya kepada penonton internasional, meskipun dengan konteks lokal yang spesifik.


Penelitian akademis tentang dokkaebi terus berkembang, dengan para sarjana mengeksplorasi aspek historis, sosiologis, dan psikologis dari makhluk ini. Pendekatan akademis ini melengkapi representasi populer dan membantu melestarikan makna budaya asli sambil mengakui evolusi mereka dalam budaya kontemporer. Seperti studi tentang hantu ubume di Jepang atau legenda lokal di berbagai destinasi budaya, penelitian tentang dokkaebi berkontribusi pada pemahaman yang lebih luas tentang kepercayaan supernatural Asia.


Masa depan dokkaebi dalam budaya Korea tampak cerah. Dengan minat yang terus berkembang pada fantasi dan supernatural dalam media global, dokkaebi memiliki potensi untuk menjadi lebih dari sekadar fenomena Korea – mereka dapat menjadi bagian dari kosakata supernatural global, bersama dengan vampir, werewolf, dan makhluk mitologi lainnya. Evolusi mereka dari makhluk cerita rakyat pedesaan menjadi ikon budaya pop internasional adalah bukti daya tahan dan fleksibilitas mitologi dalam menghadapi perubahan budaya.


Kesimpulannya, dokkaebi atau goblin Korea mewakili sintesis unik antara tradisi dan modernitas, antara yang lokal dan global. Dari akarnya dalam kepercayaan animisme Korea hingga adaptasinya dalam drama dan K-Pop kontemporer, dokkaebi terus berevolusi sambil mempertahankan esensi budaya mereka. Sebagai makhluk yang hidup di antara dunia, mereka berfungsi sebagai metafora yang kuat untuk pengalaman manusia kontemporer – selalu berada di antara, selalu mencari tempat, dan selalu menantang kategori sederhana baik dan jahat.

dokkaebigoblin koreamitologi koreapohon beringinmawar hitamkuntilanakkrasuehantu ubumejiangshidrama koreak-popbudaya koreamakhluk mitologifantasi korea


Tricksocial - Rahasia Pohon Beringin, Mawar Hitam, dan Kuntilanak


Di Tricksocial, kami mengajak Anda untuk menjelajahi dunia penuh misteri dan keindahan melalui artikel-artikel kami. Dari pohon beringin yang sarat dengan legenda, keindahan mawar hitam yang langka, hingga cerita mistis kuntilanak yang telah menjadi bagian dari cerita rakyat. Setiap artikel kami dirancang untuk memberikan Anda wawasan yang mendalam dan menarik tentang topik-topik ini.


Kami percaya bahwa keindahan dan misteri alam serta budaya kita patut untuk dijelajahi dan dihargai. Oleh karena itu, Tricksocial berkomitmen untuk menyajikan konten yang tidak hanya informatif tetapi juga menghibur. Kunjungi kami di Tricksocial untuk menemukan lebih banyak artikel menarik lainnya.


Jangan lupa untuk berbagi pengalaman Anda dengan kami dan ikuti terus update terbaru dari Tricksocial. Bersama, kita bisa mengungkap lebih banyak rahasia dan keindahan yang tersembunyi di sekitar kita.